Blog Motivasi Bisnis Inspirasi

Blog Motivasi Bisnis Inspirasi

The Power of Words

Kekuatan kata-kata bisa sangat mempengaruhi seseorang, membuat perubahan, dan menciptakan perbedaan. Kata-kata yang diucapkan seseorang bisa membuat orang terpuruk, dan sebaliknya bisa menjadikannya berubah menjadi orang hebat. Beberapa hari yang lalu saya mampir ke blog seorang teman, dan tidak sengaja membaca artikel menarik yang saya benar-benar baru tahu, maaf agak kurang update hehe..
Sobat tahu foto siapa di bawah ini?

Sumber foto : google

Foto di atas adalah Thomas Alva Edison kecil dan sang ibu, Nancy Matthews Elliot Edison. Seperti kita tahu Thomas Alva Edison adalah seorang penemu yang memberikan kontribusi besar pada dunia dengan ditemukannya lampu pijar. Namun masa kecilnya begitu sedih. Thomas Alva Edison hanya bersekolah formal selama 3 bulan. Selama ini kisah yang saya tahu adalah ia dikeluarkan dari sekolah karena ia dianggap tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolah. Ternyata ada kisah lain yang terlewatkan. Sepulangnya dari sekolah, Tommy (panggilan Thomas Alva Edison) memberikan surat dari sekolah pada ibunya. Ia berkata bahwa surat ini harus diberikan pada sang ibu. Membaca surat itu, sang ibu menangis, dan mengatakan pada Thomas isi surat itu, “Anak Anda sangat jenius. Sekolah ini terlalu kecil untuknya dan tidak ada guru yang bagus untuk mengajarinya. Tolong ajari dia oleh Anda,” Bertahun-tahun pun berlalu. Sang ibu meninggal dunia dan Thomas Alva Edison telah menjadi penjadi penemu paling hebat. Suatu hari ia berkunjung ke rumah orang tuanya untuk mencari sesuatu. Tiba-tiba ia melihat sebuah kertas terlipat di pojok sebuah meja. Ia mengambilnya dan membuka kertas itu. Di kertas itu tertulis : “Anak Anda gila (mentalnya sakit). Kami tidak ingin ia kembali ke sekolah lagi”. Thomas Alva Edison menangis dan ia menulis di buku hariannya : Thomas Alva Edison adalah seorang anak gila, dan oleh ibunya dirubah menjadi seorang jenius abad ini.

Entah apa jadinya jika sang ibumembacakan isi surat yang sesungguhnya. Namun sang ibu percaya bahwa anaknya adalah seorang yang pintar. Alih-alih mengatakan isi surat itu, sang ibu justru berkata bahwa Thomas Alva Edison adalah anak yang jenius. Berkat kata-kata ibunya, berkat semangat dan dukungan ibunya tersebut, Thomas Alva Edison berubah menjadi penemu paling produktif dengan memegang 1.093 hak paten atas namanya sendiri dan merupakan penemu berpengaruh sepanjang sejarah. Quote Thomas Alva Edison favorit saya adalah : “Banyak kegagalan hidup berasal dari orang yang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan kesuksesan saat mereka memutuskan untuk menyerah”.

Kisah lain datang dari awal abad sembilan belas di London. Ada seorang anak muda yang ingin sekali menjadi penulis. Namun sepertinya segala sesuatu tidak mendukungnya. Ia tidak mampu bersekolah, ayahnya masuk penjara karena tidak mampu membayar utang-utangnya, dan ia kelaparan. Akhirnya pada suatu hari ia mendapatkan pekerjaan menempelkan label pada botol di sebuah gudang yang dipenuhi banyak tikus, dan tidur di loteng yang suram. Dia hanya memiliki sangat sedikit rasa percaya diri pada kemampuannya menulis. Bahkan ia sampai mengirimkan naskah pertamanya pada tengah malam agar tak ada seorang pun yang menertawakannya. Cerita demi cerita ditolak, hingga akhirnya suatu hari satu ceritanya diterima. Meskipun ia tidak mendapat bayaran sesen pun, namun seorang editor di tempat ia mengirimkan naskah itu telah memujinya. Sang editor membesarkan hatinya dan telah memberinya penghargaan atas karya yang ditulisnya. Hatinya begitu bergetar. Pujian dan penghargaan yang diterimanya melalui satu cerita yang diterbitkan, telah merubah seluruh hidupnya. Berkat kata-kata editor yang mendorong semangatnya, karena kalau bukan karena itu, dia mungkin akan terus bekerja di pabrik yang penuh dengan tikus. Sobat mungkin sudah pernah mendengar tentang anak laki-laki ini. Namanya Charles Dickens. Seorang novelis Inggris paling berpengaruh. Karyanya antara lain, Oliver Twist, Christmas Carol, dan David Copperfield.

Oh ya, ternyata ada hubungan antara Thomas Alva Edison dan Charles Dickens. Saat masih kecil, ibu Thomas Edison sering membelikannya buku. Salah satu dari buku-buku itu adalah buku karya Charles Dickens  Saya pernah juga membaca bahwa Thomas Alva Edison berkata bahwa ibunya adalah motivasi terbesarnya, itulah yang membuatnya menolak menyerah, melewati kegagalan-kegagalan percobaan hingga 1000 kali.

Saya juga punya pengalaman tentang betapa berartinya kata-kata. Kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu, namun begitu membekas di hati saya sampai sekarang.

Suatu hari saat akan diadakan ujian lisan untuk suatu mata kuliah, dosen kami saat itu meminta mahasiswanya maju satu persatu. Saat tiba giliran saya, dosen itu bertanya beberapa soal yang diujikan. Setelah itu, ia bertanya apa kesibukan saya selain kuliah. Lalu saya katakan saya sedang merintis sebuah bisnis. Saya menceritakan bisnis saya dengan bersemangat dan sang dosen mendengarkan dengan antusias. Sebelum saya kembali ke tempat duduk, dosen itu berkata, “Jangan menyerah, semangat ya, semoga berhasil,” Saya terperanjat, air mata saya hampir jatuh saat itu. Itu adalah pertama kalinya saya diberi semangat oleh orang lain. Mungkin kata-katanya singkat dan sederhana. Mungkin sang dosen juga sudah melupakannya. Tapi kata-kata itu tertanam di dalam hati saya selama bertahun-tahun sampai hari ini. Tulisan pertama di blog ini saya dedikasikan untuk orang-orang yang sudah memberikan semangat yang tulus dan membesarkan hati saya. Saya ingin katakan, “because of you, i didn’t give up”.






Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "The Power of Words"

Post a Comment